Nama : Adinda
Dewi Fitriani
NPM :
19112376
Kelas : 5 KA
36
“Permasalahan Sosial di Kota-Kota
Besar di Indonesia dan Jalan Keluarnya”
1. Penyebab Kemacetan di Jakarta
Kemacetan di daerah ibu
kota telah menjadi penyakit kronis sejak awal tahun 1990-an, dengan
kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan. Berbagai solusi ditawarkan, namun
tidak satupun berjalan efektif untuk mengatasinya, karena solusi yang
ditawarkan (misal: jalur 3-in-1, jalur khusus bus, perbaikan jalan, dan
pembangunan jalan tol) cenderung terpilah-pilah (parsial), tidak sistematis,
dan tidak kontinu.
Departemen Pekerjaan Umum
(PU) sebagai pembina urusan jalan merupakan salah satu pihak yang menjadi sasaran
complain masyarakat yang bertubi-tubi tentang persoalan kemacetan tersebut.
Fakta ini dapat dipahami mengingat saat ini 90% angkutan penumpang maupun
barang bertumpu pada jaringan jalan yang ada.Tidak dapat dipungkiri bahwa jalan
sejauh ini merupakan harapan terbesar masyarakat ibukota, daerah sekitarnya,
bahkan nasional, untuk mendukung kegiatan sosial ekonominya.
Beberapa cara yang telah
ditempuh oleh pemerintah DKI Jakarta dalam mengatasi kemacetan, seperti
memberlakukan three in one pada jalan-jalan tertentu dan membangun transportasi
Busway Tapi nampaknya usaha tersebut tetap saja tidak bisa mengatasi kemacetan.
Khusus untuk busway, transportasi massal jenis ini memang sangat dibutuhkan,
tapi bukan untuk mengatasi kemacetan, justru sebaliknya, karena jalan yang
digunakan oleh busway tidak dibarengi dengan pelebaran jalan, sehingga jalan
semakin sempit akibatnya makin menimbulkan kemacetan. Di samping itu masyarakat
pengguna busway justru dimonopoli oleh masyarakat yang nota bene tidak memiliki
kendaraan roda empat.
Dengan pembebanan yang
ada tersebut, jalan merupakan ground transport infrastructure yang sangat vital
dalam mewujudkan sasaran pembangunan nasional, yakni untuk :
· Mencapai
tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan target yang telah ditetapkan
antara 6 hingga 8%per tahun.
· Mempercepat
terjadinya pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, serta pengentasan
kemiskinan bagi tidak kurang dari 36 juta jiwa yang hidup dengan penghasilan di
bawah US $ 2per hari.
· Menciptakan
lapangan kerja langsung (buruh, supplier material, sektor informal, dan
sebagainya) dan tidak langsung (pedagang pasar, penambang galian C, pengusaha
restoran, pengusaha BBM, dll).
· Memperkuat
kesatuan dan persatuan nasional.
Namun, permasalahan
kemacetan sangatlah kompleks. Kajian singkat ini berupaya untuk menyajikan
anatomi kemacetan ditinjau dari faktor-faktor penyebab, dampak yang ditimbulkan,
konsep-konsep untuk mengatasi kemacetan, serta peran yang dapat dimainkan oleh
Departemen Pekerjaan Umum sebagai kontribusi untuk mengatasi kemacetan.
Seringkali
kita menyalahkan pengendara sepeda motor sebagai biang kemacetan. Setelah saya
telaah dan perhatikan ternyata pengendara sepeda motor hanyalah penlengkap
stress kita saja. Ulah mereka sering membuat amarah kita meledak, taoi
sebenarnya mereka bukan biang macet.
Penyebab utama kemacetan di Jakarta adalah:
1. Tidak adanya pelebaran jalan. Sedangkan jumlah kendaraan bermotor terus bertambah dari tahun ke tahun. Sebagian pajak kendaraan seharusnya disisihkan untuk biaya pelebaran atau pembuatan jalan baru.
2. Kemakmuran yang membuat semua orang mampu beli kendaraan, ditunjang pula oleh sistem perkreditan. Juga kota Jakarta sebagai tujuan migrasi membuat padat kota ini.
Penyebab utama kemacetan di Jakarta adalah:
1. Tidak adanya pelebaran jalan. Sedangkan jumlah kendaraan bermotor terus bertambah dari tahun ke tahun. Sebagian pajak kendaraan seharusnya disisihkan untuk biaya pelebaran atau pembuatan jalan baru.
2. Kemakmuran yang membuat semua orang mampu beli kendaraan, ditunjang pula oleh sistem perkreditan. Juga kota Jakarta sebagai tujuan migrasi membuat padat kota ini.
3. Putaran Arah (U-Turn). Ini tidak di-design dengan baik. Hampir pada setiap u-turn terjadi kemacetan. Bagian tata kota khususnya lalu lintas tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Banyak kasus kendaraan melakukan u-turn sampai 2 atau 3 jalur sedangkan lebar jalan hanya 4 jalur.
4. Perilaku kendaraan umum menaikkan dan menurunkan di sembarang tempat. Sering kali juga menaikkan atau menurunkan penumpang di tengah2 jalan karena sopirnya malas menepi.
5. Adanya kendaraan dengan ukuran sedang seperti Bajaj.Jika sedang dalam kemacetan, seringkali Bajaj menyelinap di antara 2 mobil. ini menghambat arus jalan yang sebenarnya bisa digunakan oleh pengendara sepeda motor. Sopir Bajaj merasa muat kali untuk masuk di celah-celah kemacetan dan akhirnya malah memperparah kemacetan itu sendiri. Bayangkan kemacetan mobil itu adalah tubuh kita dan celah-celah kemacetan itu arus darah tubuh kita. Dan Bajaj itu adalah gumpalan minyaknya yang menghambat arus darah.
6. Hujan, cukup setengah jam saja bisa membuat Jakarta macet total. Lagi - lagi sistem tata kota yang kurang apik. Alasan lainnya semua memilih naik mobil sendiri dan pada akhirnya mempersempit jalan sehingga membuat kemacetan yang panjang.
7. Kesalahan teknis seperti lampu lalu lintas yang mati. Ataupun ada kendaraan yang mogok di tepi atau tengah jalan.
8. Persimpangan tanpa lampu lalu lintas
9. Rendahnya disiplin kita semua. Baik pemilik mobil, motor, sopir kendaraan umum, penumpang kendaraan umum, pengguna jalan, pedagang kaki lima. Semua turut mempunyai andil dalam kemacetan di Jakarta.
Kesimpulannya pmerintahlah yang harus bertanggung jawab
terhadap masalah kemacetan. Jakarta tidak boleh dilarang untuk didatangi para
pendatang. Lebih baik lagi jika para pendatang dari luar negeri. Seperti kota
New York dan lainnya. Kuncinya adalah tata kota yang baik dan pelebaran jalan. Kita
semua tentu mempunyai hak yang sama untuk memiliki kendaraan bermotor. Jangan
dibatasi. Kenapa tidak jalannya saja yang diperlebar? Atau kerjakan sistem
angkutan masal yang baik dan benar. Busway saja setengah - setengah. Monorail
apalagi wacana saja, tanpa tindakan kelanjutan. Ide tentang
perpindahan ibu kota dan pembagian daerah (kota) sesuai dengan aktifitas
terbesarnya juga mungkin merupakan solusi yang bisa dipertimbangkan, dipikirkan
dan direncanakan secara matang. Namun itu merupakan solusi jangka panjang. Yang
harus segera dilaksanakan, yaitu bagaimana untuk segera mengatasi kemacetan di
Jakarta. Berikut ini, mungkin bisa menjadi solusi dalam mengatasi kemacetan di
Jakarta, antara lain:
1. Jalur three in one lebih diperluas wilayahnya dan tidak menggunakan batas waktu.
2. Jalan-jalan yang dilalui busway yang menyebabkan penyempitan badan jalan harus segera diperlebar.
3. Membangun transportasi massal lain, seperti misalnya subway atau monorel
4. Menerapkan usia kendaraan yang layak beroperasi. Ini juga dapat mengurangi polusi.
5. Meningkatkan tarif pajak kendaraan bermotor, khususnya kendaraan roda empat.
6. Mengadakan pelatihan atau seminar kepada supir-supir angkutan umum tentang keselamatan dan peraturan berlalu lintas.
7. Menegakkan aturan dengan menindak tegas semua pelanggar lalu lintas tanpa kecuali ataupun oknum polisi yang berbuat pungli.
8. Memperbanyak dan terus menerus mengingatkan masyarakat melalui spanduk, brosur, ataupun iklan tentang disiplin berlalu lintas. Baik di media Cetak ataupun media elektronik.
Apa yang di kemukakan
di atas sangat mungkin sudah dipikirkan oleh pejabat yang berkepentingan, para
ahli ataupun pemerhati transportasi. Namun kenyataannya sampai saat ini hampir
tidak ada aksi yang nyata, dalam mengatasi kemacetan di Jakarta. kalaupun ada, Di
negara ini terlalu banyak orang pintar, tetapi sangat sedikit orang yang bisa
atau mau mengimplementasikan ilmu yang dimilikinya. Mungkin juga sangat
berhubungan dengan kesejahteraan. Karena pemerintah atau pejabat, lebih
memikirkan perut sendiri dari pada memikirkan perut rakyat. Memang diperlukan
dana yang tidak sedikit, tapi kalau dibandingkan dengan uang negara yang lenyap
akibat korupsi.
SUMBER
:
3.
http://www.variant-info.com/component/content/article/46-artikel/91-mengurai-kemacetan-di-jakarta-a-solusinya.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar